Sungguh merupakan sebuah pengalaman yang berharga dan tak akan mudah lepas dari ingatan sebuah pelajaran dan  pengalaman yang sangat luar biasa dan berharga yang boleh saya dapatkan pada hari Sabtu, 28 September 2013. Kerja sama tim, kebersamaan, kejujuran, kesatuan hati, rasa percaya, taat pada peraturan, menghargai waktu, fokus pada tujuan, menyambung potensi adalah pelajaran yang dapat saya tuliskan untuk kesempatan ini. Ditambah lagi dengan hadiah buku ‘Virus Penghambat Sukses’ pemberian Pak Steanley semakin memotivasi saya untuk dapat belajar dan belajar lebih giat lagi dengan harapan dapat berubah ke arah yang lebih baik.

IMG_8291

Outbond yang sangat mengesankan dengan instruktur yang sangat luar biasa dengan pengetahuan dan ilmu yang berharga diberikan dengan harapan kami kelompok Batch 8 SEAMOLEC-ITB baik gelombang satu maupun gelombang dua dapat menjalin kerjasama tim yang baik dan menjadi orang-orang yang berguna dan sukses ke depannya. Seketika dalam ingatan muncul sebuah pemikiran bahwa kesempatan untuk lanjut studi ini harus saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan perubahan yang signifikan untuk mau belajar dan berusaha dengan keras, I trust I can do that.

IMG_8510

Tepat pukul 18.00 sore, kami diberikan tugas yakni ‘Entrepreneur’ menjual produk dengan meraih untung yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sebelumnya memang saya sudah pernah menjual produk kecil-kecilan di kampus Telkom Applied Science School seperti donat, gorengan dan produk sendiri Meed Banana Cold. Jadi sudah ada gambaran dan pengalaman sebelumnya bagaimana cara mempengaruhi konsumen. Hal yang saya harus lakukan ketika mempengaruhi konsumen agar tertarik kepada produk saya adalah percaya diri, keberanian, membuang rasa malu dan positive thinking believe that my product will accepted by consumen. Untuk pengalaman kemarin keuntungan yang saya dapatkan maksimal mencapai 100 persen. Untuk kesempatan penjualan kali ini, keuntungan yang harus didapat harus melebihi 100 persen. Pertanyaannya adalah “Bagaimana mungkin?”.  I think is impossible.

Produk yang harus saya jual pada kesempatan ini adalah dua buah pulpen. Pulpen berukuran mini dengan harga awal kira-kira dua ribu rupiah. Sebelumnya Pak Steanley menekankan agar pulpen tesebut dapat dijual dengan harga 50-100 ribu rupiah. Seribu pertanyaan muncu di benak saya, apakah saya bisa menjual dengan pulpen dengan harga tersebut. Dan saya akhirnya memikirkan teknik yang menarik agar si pembeli tertarik dengan produk saya dan saya dapat meraih keuntungan semaksimal mungkin.

Mencerna tugas ini, Kelompok ‘Kuda’ akhirnya memecah tim menjadi beberapa kelompok menelusuri jalanan sekitar Universitas Terbuka. Saya sendiri sebelum memulai penjualan terlebih dahulu pulang ke kostan untuk mandi sejenak mengingat tubuh sudah gerah dan berpeluh keringat setelah melaksanakan outbond. Kemudian proses penjualan dan mempengaruhi konsumen dimulai.

1. Penjualan Pertama, update status Black Berry Messanger dan Broadcast pesan Black Berry Messanger.

Update status (Personal Message) ini saya tujukan dengan harapan ada yang mau ‘Ping!!’ dan menawar produk pulpen saya. Pesan penjualannya juga saya usahakan dalam bentuk broadcast pesan di kontak BBM saya.

Capture13_37_59

Capture8_47_31

 

 

 

 

 

Keterangan:

Gambar di atas merupakan update Personal Message (PM) saya di Black Berry Messanger dan isi pesan Broadcast Black Berry  .

Hasil dari PM dan Broadcasr ini ada satu orang yang mau membeli dan menawar produk saya. Dan syukurnya beliau menawar dengan harga Rp 50.000,-. Tetapi saya pending dulu karena siapa tau ada penawar yang mau membeli dengan harga yang lebih tinggi.

2. Penjualan Kedua, update status Twitter

Sama halnya dengan update status penjualan di BBM kali ini saya juga tweet di akun twitter saya. Sayangnya para teman follower dan following tidak ada yang me-reply tweet saya.

tweet

Keterangan:
Hasil tweet penjualan pulpen pada akun twitter saya.

Tadinya saya berharap ada satu-dua orang yang tertarik dan mau menawar produk ini. Tetapi alhasil tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Keadaan ini tentunya tidak membuat semangat saya patah untuk berusaha lebih. Setelah melakukan penjualan di media sosial (dunia maya) sekarang saya melakukan penjualan di real world.

3. Penjualan Ketiga kepada Tetangga Kostan Pertama

Ide ini muncul ketika saya merenung pada saat mandi. Terlintas di benak saya bahwa tetangga samping kostan saya ada keluarga yang beberapa hari ini ngontrak juga di tempat yang sama. Kemudian dengan memberanikan diri, saya mendatangi kamar tersebut dan mengetuk pintunya seraya menyapa ‘punten….’. Tak berapa lama, seorang Ibu keluar dari dalam kamar. Kemudian saya awali percakapan kurang lebih demikian hal yang saya sampaikan dengan teknik penjualan saya sendiri.

Saya       : Slamat sore Ibu. Maaf sebelumnya apabila kedatangan saya mengganggu. Perkenalkan saya Eidelbert Sinaga. Saya mahasiswa dari SEAMOLEC-ITB. Di  sini kami sedang praktikum Entrepreneur. Jadi di sini saya sedang membawa dua buah pulpen dimana pulpen ini memiliki kelebihan pada bentuknya. Dimana bentuknya mini, available untuk dibawa kemana-mana sehingga Ibu dapat menulis apa saja dimanapun dan kapanpun. Nah, apabila dibuka maka pulpen nya akan berubah menjadi panjang. Nah, di sini saya mau tantang ibu untuk membeli produk saya. Mengapa? Karena dengan membeli barang ini, ibu telah memberikan sumbangsi terhadap pendidikan di Indonesia. Nantinya hasil dari penjualan produk ini akan kami kumpulkan dan kami sumbangkan kepada pihak-pihak atau teman-teman kita yang belum menikmati atau mengecap pendidikan hingga sampai saat ini. Saya tidak mematok harga, jadi harganya kembali ke Ibu sendiri. Kalau bisa di atas 50 ribu ya bu (dengan nada candaan) heheh.  Nah, bagimana Bu?

Ibu         : Wah, saya tertarik dengan produknya. Nah, tetapi mohon maaf ya dek. Suami saya sedang pergi. Semuanya keputusan ada di Bapak.

Saya       : Oh iya Bu. Oke Bu kalau begitu terimakasih banyak. Mari Bu..

Sebenarnya ketika si Ibu menjawab saya merasa heran dengan kata-katanya. Tetapi saya ambil hal positifnya saja. Mungkin saja pada saat itu memang ibunya sedang tidak pegang duit. Dengan keadaan seperti ini, saya tidak putus asa. Saya yakin masih banyak orang selanjutnya yang akan membeli produk saya.

4. Penjualan Keempat kepada Tetangga Kostan Kedua

Setelah mencoba melakukan penawaran dengan tetanga kostan pertama, sekarang saya mencoba untuk melakukan transaksi dengan tetangga kostan kedua. Kebetulan di depan kostan kedua ini ada seorang bapak dan seorang ibu yang sedang ngobrol. Nah, kesempatan bagus untuk saya untuk menawarkan produk pulpen ini. This is my time. Saya hampiri mereka berdua dengan memberi salam terlebih dahulu kemudian mulai menjelaskan tujuan saya sebenarnya. Percakapannya hampir sama dengan percakapan yang telah saya lakukan dengan tetangga kostan yang pertama. Pada akhirnya penjualan kali ini mendapatkan hasil yang memuaskan. Pulpen yang saya tawarkan mendapatkan nilai jual Rp 20.000,-. Meskipun belum memenuhi target yang lebih saya tetap bersyukur dan positive thinking saya bisa menjual dengan harga Rp 50.000 ke atas

5.Penjualan Kelima kepada Bapak yang sedang makan di rumah makan

Kali ini saya bersama teman-teman dari kelompok Kuda berjalan bersama meyusuri jalanan dengan tujuan persimpangan Gaplek. Target pertama yang saya temui adalah seorang bapak yang sedang makan di rumah makan.

Bapak ini memiliki tampang yang sangar dan rambut yang panjang. Meskipun demikian tidak menghambat langkah saya untuk menawarkan produk saya kepadanya. Baru saja mengucapkan salam, bapak tersebut sudah memberikan tangannya sebagai bentuk penolakan dan mengatakan ‘sudah mas, tadi temannya sudah menawarkan kepada saya.’ Hal ini tentu saja mengharuskan saya pergi dengan tangan kosong dan kemudian mencari target baru lagi.

6. Penjualan Keenam kepada Bapak yang sedang berdiri di samping rumah makan

Berbeda dengan bapak yang sedang makan di rumah makan pertama. Posisinya, bapak ini sedang menunggu pesanan makanan yang telah dia pesan di salah satu rumah makan di pinggir jalan sekitaran gaplek. Saya hampiri bapak tersebut dengan salah satu teman saya. Saya berusaha menjelaskan rincian tujuan saya apa dibantu dengan teman saya yang satu lagi. Pada akhirnya bapak tersebut tertarik untuk membeli produk kami. Saya memperlihatkan produk saya dengan warna putih-hijau dan teman saya putih-biru. Bapaknya kemudian memilih dan yang diambil adalah produk pulpen teman saya yakni yang berwarna putih-biru. Tentunya penasaran berapakah jumlah rupiah yang diberikan oleh bapak tersebut. Dan ternyata, bapak tesebut mengeluarkan satu lembaran Rp 5000,- dari dompetnya. Kemudian teman saya menerimanya dengan lapang dada. Next, kami mencari target selanjutnya.

7. Penjualan Ketujuh kepada Keluarga yang sedang makan di warung seafood

Berbeda dengan bapak yang makan di rumah makan pertama dengan kedua, keluarga ini sedang makan di warung seafood. Setelah minta izin terlebih dahulu untuk meminta waktu mereka, saya dan dua teman saya mulai menjelaskan tujuan kami apa dan mengenalkan produk pulpen saya. Pada akhirnya bapak dari keluarga ini tertarik dan membeli dua produk sekaligus. Setelah diberi pilihan warna, pulpen yang laku terjual adalah pulpen teman saya yang pertama dan kedua. Nah, di sini pulpen saya tidak saya berikan karena sebelumnya saya ragu setelah berbicara panjang lebar dengan bapak ini. Dan memang dugaan saya tepat. Bapak ini membeli dua buah pulpen dengan harga Rp 10.000,-. Kedua teman saya berlapang dada menerima hasil penjualan tersebut. Dan kemudian kami beranjak dari tempat tersebut.

Setelah menapaki jalanan, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 19.10 dan posisinya kami masih di perempatan gaplek. Sementara pukul 19.30 kami harus sudah berada di SEAMOLEC. Nah ini memaksa kami untuk segera menyudahi proses penjualan.

Satu hal yang sangat mengganggu, karena pulpen saya yang satu lagi belum terjual. Tiba-tiba handphone saya bordering dan ada satu pesan masuk. Ternyata pesan itu dari teman saya yang mau membeli pulpen saya seharga Rp 20.000. Teman saya ini membantu harga, dan beliau mengijinkan untuk pulpen tersebut saya jual lagi kepada orang yang berbeda.

Capture10_7_51

Keterangan:

Capture SMS dari teman saya yang membeli pulpennya seharga Rp 20.000,-.

Dan pada waktu-waktu tersisa, saya menelepon Ayah saya kemudian menawarkan produk pulpen tersebut seraya menjelaskan bahwa anaknya sedang latihan Entrepereneur. Di sini saya tidak mematok harga berapa. Pada intinya Beliau mau membeli produk saya kemudian untuk nilai nominalnya akan diinformasikan via SMS.

Capture10_50_24

Keterangan:

Capture SMS dari Ayah saya membeli produk pulpen seharga Rp 50.000,-.

Setelah menunggu beberapa saat, ada pesan masuk dari ayah saya dan produk pulpen saya tersebut dibeli dengan harga Rp 50.000,-. Kembali kepada kepercayaan awal, saya yakin bahwa produk saya dapat laku terjual di harga Rp 50.000,-. Dan memang benar, bahkan saya mendapatkan biaya penjualan yang lebih yakni Rp 70.000,-.

Setibanya di SEAMOLEC, kelompok kuda berkumpul dan menjumlahkan semua total biaya penjualan yang didapatkan. Sesuatu hal yang sangat membanggakan kami dari kelompok kuda, untuk hari sabtu, 28 September 2013 kami berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp 1.500.000.  Dari ke empat kelompok yang menjual produk pulpen, kelompok kuda berhasil meraih juara pertama untuk jumlah hasil penjualan terbanyak.

Setelah melakukan penjualan pada hari tersebut, saya tidak berhenti berusaha untuk menawarkan produk pulpen saya ini kepada teman-teman saya. Mereka berminat untuk membelinya dan tentunya fakta tentang kejelasan total uang yang dikumpulkan harus dapat dibuktikan nantinya yakni untuk membantu teman-teman yang belum mengecap pendidikan.

Pelajaran yang saya dapatkan dari praktikum Entrepreneur ini ada beberapa hal yakni;

  1. Jangan khawatir dan malu untuk terjun langsung ke masyarakat apabila memiliki tekad dan bercita-cita untuk menjadi seorang wirausahawan. Diterima atau tidak menjadi urusan terakhir, yang terpenting adalah berusaha untuk mencoba.
  2. Perkataan yang sopan, teknik berbicara yang tegas dan menjelaskan keuntungan apa yang akan diperoleh si konsumen akan mempengaruhi daya tarik konsumen untuk membeli produk.

Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin, Anda akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin Anda capai.